Bismillahirrahmanirrahim,
Biar semangat lagi nulis blog nya dan lebih terstruktur, saya buat blog baru yang fokus untuk hal - hal berkaitan dengan policy analysis, maupun tulisan - tulisan random lainnya di:
https://policyanalyst101.wordpress.com/
Monggo dicek :)
Thursday, February 25, 2016
Saturday, July 25, 2015
REFLEKSI TUGAS AKHIR S1 (Bagian Pertama)
Hello world! Kali ini saya mau curhat
sedikit tentang insight – insight yang
saya dapatkan selama mengerjakan tugas akhir (skripsi) di program sarjana
Teknik Industri UI. Singkat kata, skripsi saya berjudul ‘Evaluasi Kebijakan
Transisi Kendaraan BBM ke BBG dengan Menggunakan Permodelan Berbasis Agen
(Studi Kasus DKI Jakarta)’. Ya, judul yang cukup panjang menurut saya buat
sebuah skripsi! Tapi tenang, sebenarnya skripsinya gak seberat judulnya. Halaman
skripsi saya hanya 61 halaman!
Sedikit cerita
tentang latar belakang tema yang saya angkat, believe it or not, jumlah kendaraan roda empat alias mobil di DKI
Jakarta berjumlah hingga 25% dari seluruh jumlah mobil yang ada di Indonesia!
Bisa kita bayangkan kenapa jalanan di Jakarta sering banget macet. Tapi bukan
itu yang saya angkat, melainkan potensi dibalik angka tersebut. Seperti yang
kita tahu, transportasi darat Indonesia sudah sangat amat amat amat bergantung
dengan bahan bakar minyak yang notabenenya tidak baik (polusi cukup berbahaya,
disubsidi pula). Di sisi lain pemanfaatan gas bumi (yang sekitar 48% produksi
lokal kita malah diekspor alih – alih dimanfaatkan untuk kepentingan domestik)
sebagai bahan bakar kendaraan masih sangat minim. Oleh karena itu DKI Jakarta
dapat menjadi potensi besar untuk melakukan transisi kendaraan bahan bakar
minyak (BBM) menuju bahan bakar gas (BBG). Jika transisi berhasil dilakukan di
Jakarta maka besar kemungkinan akan terjadi efek domino ke daerah – daerah lain
di Indonesia!
Oke, itu sedikit
latar belakang skripsi saya. Lanjut ke rumusan permasalahan……
Masalahnya,
transisi itu gak gampang! Banyak negara yang berhasil menyukseskan transisi
kendaraan menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, namun lebih banyak
negara yang belum berhasil melaksanakan transisi tersebut. Diperlukan kebijakan
yang komprehensif agar transisi kendaraan dapat berhasil. Dan itulah yang saya
lakukan! Menganalisa tiga opsi kebijakan transisi kendaraan BBM ke BBG
(pemberian converter kit gratis,
pendirian SPBG, dan pemberian subsidi pada pembelian converter kit) dengan menggunakan pendekatan permodelan berbasis
agen.
Refleksi #1 : Dilema dalam menentukan
kebijakan
Pengambilan
keputusan (bahasa kerennya: decision
making) itu gak simple! Sederhananya kita pasti pernah (bahkan mungkin
setiap hari) dihadapi dengan pengambilan keputusan: nanti ketemu teman di blok
m naik apa, nanti siang makan siang pake apa, nanti malam tidur sama istri yang
mana (eh!). Misal anda mau ke blok m dari depok, ada berbagai opsi: 1) naik
motor, 2) naik bis depok-blok m, 3) naik kereta ke sudirman, sambung kopaja ke
blok m. Tentu anda akan berpikir kalau naik motor gampang, cepat, tapi capek
dan gak nyaman. Kalau naik bis malah lebih murah (Cuma 4000 udah sampe blok m
coy!), tapi panas dan sumpek (kopaja blok m – depok sering banget penuh dan
sumpek abis). Kalau naik kereta sambung kopaja agak mahal, tapi lebih cepat
dari naik bis depok-blok m dan jauh lebih nyaman. Hasilnya: dilema!
And that’s one of the first steps policy
analysts do: deciding and making explicit the criteria! Dilema terjadi
karena ada keunggulan dan kelemahan (bahasa kerennya: tradeoff) dari setiap alternatif. Masalahnya, seringkali kita
memikirkan tradeoff tersebut secara abstrak seperti yang dijelaskan
di paragraf sebelumnya. Tradeoff yang
abstrak tersebut menyebabkan pengambilan keputusan kita tidak optimal sehingga
keputusan yang kita ambilpun mungkin bukan yang terbaik. Tradeoff yang abstrak tersebut harus diubah ke dalam kriteria –
kriteria yang jelas. Dalam kasus di atas misalnya, maka kriterianya adalah: 1)
ongkos, 2) waktu, 3) kenyamanan. Baru deh setiap alternatif dinilai berdasarkan
tiga kriteria tersebut. Dan yang paling penting: make it explicit! Gampangnya, bikin dalam tabel, barisnya itu
alternatif A, B, C dan kolomnya adalah kriteria ongkos, waktu, dan kenyamanan. Tinggal dinilai deh setiap alternatif
berdasarkan kriteria – kriteria tersebut.
Yes, making explicit matters a lot! Otak
kita tidak bisa memproses banyak informasi secara simultan, sehingga keputusan
yang diambil jika alternatif hanya dipikirkan secara abstrak tidak akan
seoptimal keputusan jika dibuat secara eksplisit dalam tabel. Contoh seperti
kasus di atas, jika kita menilai alternatif dengan tidak eksplisit, kita lupa menilai
alternatif naik motor dari segi biaya. Kita hanya membandingkan aspek waktu
dari naik bis (opsi kedua) dan naik kereta-sambung kopaja (opsi ketiga), tidak
membandingkannya dengan opsi pertama (naik motor). Perbandingan tingkat
kenyamanan untuk setiap opsinya pun tidak jelas, tidak dengan standar yang sama
antara satu opsi dengan opsi lainnya. Alhasil proses penentuan kebijakan kita
menjadi tidak efektif dan efisien.
Hal tersebut
juga yang sering saya alami selama 3-4 tahun berorganisasi di kampus. Seringkali
saat ingin membuat keputusan, diskusi terjadi sangat panjang lebar karena tradeoff antar alternatif keputusan
hanya dibicarakan (alias didiskusikannya secara abstrak) alih – alih membuatnya
eksplisit (dalam tabel, misalnya). Seringkali pendapat yang diterima dan diaminin
adalah pendapat yang diucapkan oleh orang terakhir dalam suatu diskusi,
sedangkan pendapat – pendapat sebelumnya akhirnya diacuhkan. Alhasil banyak
pendapat – pendapat cemerlang yang tidak mendapat perhatian secara imbang
dengan pendapat – pendapat lainnya.
Dalam konteks
penelitian saya, penentuan kebijakan transisi kendaraan BBM ke BBG ditentukan
berdasarkan aspek transisi (berapa jumlah kendaraan yang terkonversi dan
bagaimana pola konversinya?), aspek keberlangsungan bisnis SPBG (apakah setiap
SPBG memiliki pangsa pasar yang cukup untuk mempertahankan profitabilitasnya?),
serta aspek ekonomi (apakah pemerintah mengalami keuntungan secara finansial
akibat kebijakan yang dilaksanakan?). Setiap alternatif kebijakan memiliki output yang unggul pada salah satu aspek
kriteria di atas, sehingga kebijakan dapat dipilih berdasarkan proposisi nilai
yang dianggap paling penting dengan tidak melupakan aspek – aspek kriteria yang
lain.
Melakukan
skripsi di bidang yang menyentuh analisis kebijakan membuka mata saya bahwa
penentuan kebijakan yang dilakukan pemerintah itu dipenuhi dilema. Tak heran
bahwa beberapa kebijakan membutuhkan kajian yang lebih mendalam dan lebih lama
akibat kompleksitas dilema tersebut. Ironinya, sebagian kebijakan tidak melalui
proses pengambilan keputusan yang cukup komprehensif (setidaknya seperti yang
saya jelaskan di bagian ini). Masih terbuka room
for improvement yang sangat lebar untuk membuat pengambilan keputusan di
pemerintahan menjadi lebih efektif dan efisien.
Oke! Cukup
sekian curhatan saya dalam edisi tulisan kali ini. Masih akan ada curhatan –
curhatan skripsi lainnya di postingan yang berbeda, so stay tuned!
Friday, April 17, 2015
Sedikit Tentang Sustainability
Sustainability is.....
Every RENEWABLE RESOURCE
must be used at or below the rate at which it can regenerate itself.
Every NONRENEWABLE RESOURCE
must be used at or below the rate at which a renewable substitute can be
developed.
Every POLLUTION STREAM must
be emitted at or below the rate at which it can be absorbed or made harmless.
Itulah tiga definisi sustainability
yang menjadi hal pertama yang dibicarakan oleh Donella Meadows saat kuliah
umumnya tentang Sustainable Systems. Jika
kita perhatikan sekitar kita, maka tidak ada yang sustainable. Sekolah kita tidak sustainable,
kendaraan kita tidak sustainable, mall
– mall yang ada tidak sustainable, bahkan
kamar tidur kita sendiri pun mungkin tidak sustainable.
Every RENEWABLE RESOURCE must be used at or below the rate at which it
can regenerate itself. Berbicara tentang renewable resource, hal pertama yang
terpikirkan adalah energi matahari, angin, turbin air, dan sebagainya. Namun
perlu disadari bahwa tumbuhan dan hewan pun juga termasuk bagian dari renewable resource karena sifatnya yang
dapat berkembangbiak. Ambil contoh
sederhana ikan – ikan di laut. Berdasarkan fishbank
model yang dikembangkan oleh akademisi sistem dinamis, semakin canggih alat
penangkapan ikan maka semakin besar kecenderungan jumlah ikan di laut akan
berkurang drastis hingga pada satu titik jumlahnya akan mencapai 0. Hal
tersebut dikarenakan ikan memiliki suatu tingkat perkembangbiakan dan jika
tingkat penangkapan ikan melampaui (akibat semakin canggihnya alat penangkapan
ikan) tingkat perkembangbiakan ikan, maka populasi ikan laut akan habis.
Every NONRENEWABLE RESOURCE must be used at or below the rate at which a
renewable substitute can be developed. Diestimasikan cadangan batu
bara Indonesia akan habis dalam 75 tahun, cadangan gas bumi Indonesia akan
habis dalam 33 tahun dan cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam 12
tahun. Di sisi lain, sektor transportasi sebagai konsumen energi terbesar di
Indonesia, memiliki pertumbuhan kendaraan bermotor pada tahun 2012 sebesar
10,25% dengan jumlah mobil penumpang sebanyak 10.432.259, jumlah truk sebanyak
5.286.061 dan sepeda motor sebanyak 76.381.183. Konsumsi listrik nasional dari
tahun 2004-2012 memiliki CAGR sekitar 8%, dengan konsumsi 100.097 GWh pada
tahun 2004 menjadi 173.990 GWh pada tahun 2012. Rumah tangga sebagai sektor
yang mengonsumsi 41% listrik nasional pun mengalami pertumbuhan sebanyak
250.000 hingga 400.000 per tahun. Sedangkan bagaimana kondisi energi terbarukan
di Indonesia? Tentu kita tahu bahwa pemanfaatan energi terbarukan seperti
matahari, angin maupun air di Indonesia masih sangat minim.
Every POLLUTION STREAM must be emitted at or below the rate at which it
can be absorbed or made harmless. Fakta – fakta pada paragraf
sebelumnya cukup memberikan gambaran bagaimana kondisi polusi di Indonesia.
Jika kita meninjau salah satu polutan berbahaya, gas rumah kaca, jumlah yang
diproduksi oleh Indonesia selalu meningkat. Pada tahun 2005, total gas rumah
kaca yang dihasilkan Indonesia mencapai 665.544 Gg CO2 ekuivalen dengan sektor
energi sebagai kontributor tertinggi (55%), disusul oleh sektor buangan rumah
tangga (25%), sektor agrikultur (12%) dan sektor industri (7,3%). Sementara itu
hutan Indonesia sebagai sektor utama yang dapat mengabsorbsi polusi udara mengalami
penurunan sebesar 15,8 juta hektar antara tahun 2000 dan 2012, menduduki negara
dengan angka kehilangan hutan kelima di dunia. Kita baru saja membicarakan
sebagian kecil dari polusi udara, sedangkan masih ada polusi air dan polusi
tanah yang tidak kalah luas pembahasannya.
Fakta – fakta yang ditampilkan di atas mungkin tidak sepenuhnya valid,
dan tidak sepenuhnya menjelaskan kondisi sustainability
Indonesia. Namun fakta – fakta di atas menunjukkan gambaran negara kita
saat ini. Kondisi yang sangat jauh dari sustainable.
Tinggal kita yang memilih: masih mau memanjakan diri dengan AC kah? Masih
mau bermalas – malasan menggunakan kendaraan pribadikah? Masih mau mengonsumsi
pangan secara berlebihan kah? Karena yang menanggung akibatnya bukan kita,
namun anak cucu kita.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
Donella Meadows General Lecture on Sustainable Systems.
Statistik PLN 2013.
BPPT, Outlook Energi Indonesia 2014.
http://repository.upi.edu/5201/4/S_MBS_0906850_Chapter1.pdf.
http://rei.or.id/file/Materi%20Nugroho.pdf.
UNFCCC, National Economic, Environment and Development Study for Climate Change: Indonesia Country Study.
http://www.mongabay.co.id/2013/11/15/temuan-peta-hutan-google-laju-deforestasi-meningkat-di-indonesia/.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
Donella Meadows General Lecture on Sustainable Systems.
Statistik PLN 2013.
BPPT, Outlook Energi Indonesia 2014.
http://repository.upi.edu/5201/4/S_MBS_0906850_Chapter1.pdf.
http://rei.or.id/file/Materi%20Nugroho.pdf.
UNFCCC, National Economic, Environment and Development Study for Climate Change: Indonesia Country Study.
http://www.mongabay.co.id/2013/11/15/temuan-peta-hutan-google-laju-deforestasi-meningkat-di-indonesia/.
Sunday, December 21, 2014
STOP Klakson!
STOP Klakson!
Sore ini ketika saya sedang mengemudi sepeda motor di ruas jalan Margonda, tepatnya di lampu merah Juanda arah dari Margo City, ada seorang pengendara sepeda motor lainnya yang kurang beruntung (sebut aja si A). Ketika lampu merah berubah menjadi hijau dan semua kendaraan jalan, motor si A yang berada di depan sebuah taksi tiba – tiba mogok dan tak bisa dinyalakan. Waktu saya melewati si A, si A sedang berusaha menyalakan motornya namun motor tak kunjung menyala. Taksi dibelakangnya pun mengklakson dengan sangat kencang, bertubi – tubi dan gak berhenti – henti. Klakson susulan dibunyikan oleh motor – motor dan mobil – mobil di belakangnya yang juga tidak dapat bergerak karena mogoknya motor si A ini.
Sore ini ketika saya sedang mengemudi sepeda motor di ruas jalan Margonda, tepatnya di lampu merah Juanda arah dari Margo City, ada seorang pengendara sepeda motor lainnya yang kurang beruntung (sebut aja si A). Ketika lampu merah berubah menjadi hijau dan semua kendaraan jalan, motor si A yang berada di depan sebuah taksi tiba – tiba mogok dan tak bisa dinyalakan. Waktu saya melewati si A, si A sedang berusaha menyalakan motornya namun motor tak kunjung menyala. Taksi dibelakangnya pun mengklakson dengan sangat kencang, bertubi – tubi dan gak berhenti – henti. Klakson susulan dibunyikan oleh motor – motor dan mobil – mobil di belakangnya yang juga tidak dapat bergerak karena mogoknya motor si A ini.
Oke, sebelum bahas kasus si A, saya tertarik untuk
membahas gambar reinforcing loop di
atas dulu. Di jalanan yang macet (lampu merah salah satunya) sering banget kita
temuin mobil – mobil dan motor – motor yang membunyikan klaksonnya karena tidak
sabar. Padahal kalau kita nglakson di kondisi tersebut, suara klakson kita akan
menambah emosi kumulatif semua pengemudi yang ada di jalan. Emosi kumulatif
yang bertambah ini memicu kita dan pengendara/pengemudi lainnya buat nglakson
juga, yang akhirnya jumlah klakson semakin banyak dan emosi kumulatif juga
meningkat terus. Akhirnya, yang kita dapat adalah capek karena emosi
mendengarkan klakson – klakson tersebut. Sadar ga sih mereka bahwa mereka
sedang terjebak dalam reinforcing loop di
atas?
Oke, mungkin sekarang orang sudah makin waras.
Mereka tidak klakson karena ketidaksabaran mereka, tapi mereka nglakson karena
ada perilaku salah satu pengemudi lainnya yang merugikan mereka. Contohnya,
kayak si A yang tidak beruntung ini. Masih benarkah kalo mereka nglakson?
Diagram loop
di atas menggambarkan ekspansi dari loop
sebelumnya, di mana sekarang ditambah perilaku si A. pengemudi – pengemudi
lainnya nglakson dengan harapan si A segera sadar untuk memperbaiki situasinya
(dalam hal ini nyalain motornya), sehingga si A meningkatkan usahanya dan
situasi yang tidak diinginkan (dalam hal ini mesin motor yang tiba – tiba mati
padahal lampu sudah hijau) segera diselesaikan. Kalau ‘situasi yang tidak
diinginkan’ sudah terselesaikan, maka jumlah klakson akan berkurang dan hilang
(panah biru menunjukkan hubungan yang berbanding lurus, sedangkan panah merah
menunjukkan hubungan berbanding terbalik).
Tapi sadarkah si pengemudi – pengemudi yang
mengklakson ini, bahwa ada dampak lain akibat klakson yang terlalu banyak? Coba
anda bayangkan kalau anda berada di posisi si A, dan tiba – tiba hujatan
klakson datang bertubi – tubi. Anda pasti akan kaget dan menjadi panik,
sehingga konsentrasi anda untuk memperbaiki situasi justru berkurang dan
‘situasi yang tidak diinginkan’ pun menjadi semakin lama terselesaikan. Jelas,
karena orang yang berada dalam tekanan cenderung tidak dapat berpikir dengan
lebih baik. Alhasil, justru klakson pertama akan mengundang klakson – klakson
lainnya untuk berbunyi dan memperkeruh suasana.
Diagram loop
di atas adalah diagram sederhana dari perilaku tipikal masyarakat Indonesia
(atau mungkin cuma Depok dan Jakarta?). Masalahnya, saat semakin banyak orang
berperilaku demikian, justru sebenarnya semakin memperparah suasana.
Andai kita sadar bahwa banyak tindakan kita yang
justru memperkeruh suasana.
Andai kita sadar bahwa perilaku sederhana yang
tidak baik akan menjadi masalah jika dilakukan oleh banyak orang.
Andai kita sadar bahwa sikap kita dapat
mempengaruhi sikap orang lain juga.
Dunia ini
bulat, begitu juga sistem di dalamnya.
Bramka Arga Jafino. 20 Desember 2014 pukul 21.18
WIB.
Sunday, December 14, 2014
'Sukses'nya Seorang Mahasiswa?
Sewaktu
mahasiswa baru saya memiliki pertanyaan besar: ‘Apa sih suksesnya mahasiswa
itu?’.
Latar belakang SMA saya adalah salah satu SMA
Negeri unggulan di kota Depok. Karena SMA unggulan, otomatis parameter
kesuksesan seluruh siswanya relatif sama: menang lomba, menang OSN, atau masuk
PTN unggulan sesuai dengan jurusan yang diinginkan. Hal yang paling mudah
disorot adalah masuk PTN unggulan. Saat kelas X, saya melihat kakak – kakak
kelas saya yang diterima di UI, ITB, UGM, dll dan menurut saya mereka sangat
keren. Hingga sampai saatnya saya menduduki bangku kelas XII, seluruh teman
seangkatan saya pun memiliki pandangan yang sama bahwa sukses itu adalah saat
kita berhasil masuk PTN unggulan.
Pandangan yang berbeda saya jumpai saat saya
menjadi mahasiswa baru di UI, terutama pada masa Mabim dan pasca Mabim. Saya
melihat senior saya ada yang langsung menjadi manajer saat lulus. Saya melihat
senior saya ada yang menlanjutkan studi S2 di luar negeri. Saya melihat senior
saya ada yang membuat usaha sendiri. Saya melihat senior saya ada yang bergerak
di bidang pengabdian masyarakat. Saya melihat senior saya ada yang menang lomba
ini itu. Saya melihat senior saya yang setiap hari kerjaannya di Kantek (re:
Kantin Teknik) ngobrol, ketawa, main kartu dan nyanyi – nyanyi. Saya pun
melihat senior saya ada yang sangat organisatoris – menduduki posisi – posisi
penting di lembaga kemahasiswaan. Saya melihat senior saya ada yang suka
nongkrong di lab, baik mengerjakan riset maupun main dota dsb. Apakah ada
sebagian dari mereka yang tidak sukses? Atau seluruhnya sukses? Atau malah
seluruhnya tidak ada yang sukses?
Premis saya saat akhir semester satu adalah:
suksesnya mahasiswa itu, kamu yang definisikan sendiri! Setiap mahasiswa berhak
menentukan suksesnya itu apa. Pada dasarnya ‘sukses’nya mahasiswa itu tidak
seragam, tidak seperti siswa SMA atau SMP atau SD. Setiap mahasiswa memiliki passion-nya masing – masing dan
mahasiswa akan sukses saat mereka telah membuat suatu pencapaian berdasarkan passion-nya sehingga suksesnya mahasiswa
pun beragam. Sekiranya itu premis
saya saat mahasiswa baru sehingga saya pun menentukan beberapa kriteria
‘sukses’ versi saya sendiri (Pesta, buku dan cinta. Namun akan saya bahas pada
lain kesempatan hehe).
Sampai akhirnya saya menulis tulisan ini, di suatu
hari minggu di penghujung semester 7 saya. Beberapa hari semenjak saya lengser
dari amanah organisasi yang dititipkan, saya mengingat kembali premis saya saat
maba dulu. Saya merefleksikan diri saya sendiri ‘apakah saya sudah sukses?’.
Namun kondisinya berbeda. Sekarang saya menemukan
definisi ‘sukses’ yang lebih baik. Sukses bukan tentang prestasi. Sukses bukan
tentang pencapaian. Sukses adalah ketika
kita bahagia dan tidak menyesal atas waktu yang telah kita habiskan. Saya
sukses jika tidak ada penyesalan akan 3,5 tahun yang telah saya habiskan untuk
berbagai aktivitas. Sukses adalah suatu kondisi, suatu perasaan.
Hingga akhirnya, kembali saya merenung, ‘sudah sukseskah saya?’.
Bramka Arga Jafino. 14 Desember 2014 pukul 23.45
WIB.
Saturday, August 30, 2014
Renungan Penjual Tisu dan Masker
“”
Berjalan di bawah
lorong pertokoan
Di Surabaya yang panas
Debu-debu ramai beterbangan
Di hempas oleh bis kota
Di Surabaya yang panas
Debu-debu ramai beterbangan
Di hempas oleh bis kota
Bis kota sudah miring
ke kiri
Oleh sesaknya penumpang
Aku terjepit disela-sela
Ketiak para penumpang yang bergantungan
Oleh sesaknya penumpang
Aku terjepit disela-sela
Ketiak para penumpang yang bergantungan
“”
Jreeeeeng…..jreng….jreeenng….
Kira kira begitu lagu yang
dialunkan oleh sang pengamen, yang mengamen di tengah kerumunan orang – orang kepanasan
akibat sesaknya bis kota. Lagu Bis Kota karangan Franky Sahilatua tentu masih
relevan untuk kondisi bis kota saat ini yang tidak banyak membaik sejak lagu
tersebut dikarang puluhan tahun yang lalu. Tapi aku rasa, ada satu yang
membaik---kondisi pengamen bis kota tersebut!
Dua bulan aku pulang pergi ke Jakarta
menggunakan bis kota, untuk kepentingan magang kuliahku. Dari sekian banyak
fenomena, fenomena pengamen bis kota ini merupakan salah satu fenomena ironi
yang aku temukan. Sebagian besar dari mereka adalah pemuda, mungkin seumuran
dengan kita atau tidak jauh berbeda dari kita. Pemuda yang masih penuh harapan
untuk menggores tinta masa depannya. Tetapi alih – alih memersiapkan tinta masa
depannya, mereka memilih jalan instan dengan
menjadi pengamen bis kota.
Aku awalnya adalah orang yang
sangat enggan untuk tidak memberi uang kepada pengamen – pengamen seperti itu. Sampai
akhirnya ada sesosok pekerjaan lain yang membuat aku ironi. Penjual tisu dan masker yang ada di
hampir setiap terminal. Sebagian besar dari mereka memiliki profil yang
bertolak belakang dengan pengamen bis kota. Jika sebagian besar pengamen bis
kota adalah anak muda yang masih penuh dengan tanda tanya, sebagian besar penjual
tisu dan masker adalah bapak – bapak atau ibu – ibu yang sudah hampir kehabisan
tinta masa depan. Para penjual tisu dan masker adalah bapak – bapak dan ibu –
ibu yang mungkin menggantungkan nasib keluarganya melalui helai demi helai tisu
dan masker yang ia bawa.
Hal yang membuat aku semakin
merasa ironi adalah pendapatan yang mereka dapat dari pekerjaannya. Taruhlah sebuah
bis kota berpenumpang 40 orang. Dengan sekali mengamen, kita asumsikan ada 10
orang yang setidaknya memberi sumbangan 1000 rupiah. Dan kita asumsikan dalam
satu jam terdapat 3 bis kota yang masuk ke terminal. Dengan kata lain, dalam
satu jam pengamen dapat memperoleh penghasilan 10x1000x3 = 30 ribu rupiah.
Jumlah pengamen umumnya 2 orang, sehingga setiap pengamen bisa mendapat 15 ribu
rupiah dalam satu jam. Jika dikali 8 jam, tentu mereka sudah mendapat
penghasilan yang cukup untuk menghidupi mereka.
Lantas bagaimana dengan penjual
tisu dan masker? Sebungkus tisu dengan ukuran sedang hanya berharga 2000
rupiah. Sehelai masker berharga 1000 rupiah. Sedangkan dalam sebuah bis kota,
belum tentu ada seorang pun yang ingin membeli tisu apalagi masker. Mungkin mereka
juga bisa berjualan ke pengunjung terminal lain yang tidak menaiki bis kota,
tetapi saya yakin jumlahnya pun tergolong sedikit. Apalagi jumlah penjual tisu
dan masker lebih banyak dari jumlah pengamen bis kota, sehingga persaingan
mereka untuk mendapat pelanggan pun lebih ketat. Bisa kita bayangkan, betapa
kecilnya penghasial penjual tisu dan masker tersebut.
Hal tersebut mendorong aku untuk
memprioritaskan membeli tisu, masker, atau barang dagangan lain yang dijual
pedagang di bis kota alih – alih mengocek sakuku untuk memberi uang ke pengamen
bis kota.
Yah, itu semua tentu didasari
asumsi pengamatanku selama 2 bulan menggunakan bis kota pulang dan pergi
magang. Tentu aku berharap pengamatan salah. Tentu aku berharap para penjual
tisu dan masker mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari hitungan
asumtifku. Tentu aku berharap mereka memiliki sumber penghasilan lain selain
menjual tisu dan masker. Tentu aku berharap mereka dapat menafkahi keluarga
mereka dengan baik.
Ide muncul saat melihat banyaknya pedagang tisu dan masker yang
bersikap santun ke pengguna bis kota. Melebihi santunnya pegawai hotel bintang
3. Ide diejawantahkan ke dalam tulisan di tengah kamar yang pengap.
Saturday, March 1, 2014
Muker IKM FTUI: Masa Depan Indonesia di Tangan Kita
Indonesia dan Kemahasiswaan
Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang
dunia.
Siapa
yang tak kenal dengan kalimat di atas. Sebuah kalimat legendaris yang diucapkan
oleh Bung Karno di masa kemerdekaan Indonesia dulu. Sebuah kalimat yang
esensinya masih relevan dengan keadaan masa kini. Mari kita sedikit menengok
China. Pada tahun 1988-2013, China dipimpin oleh engineer. Pertumbuhan
ekonominya meroket, bahkan menjadi superpower baru di samping Amerika. Lantas
bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana kondisi engineer – engineer bangsa kita?
Sudahkah calon – calon engineer muda mengalami tempaan yang ‘pas’ agar menjadi
engineer kelas dunia?
FTUI,
salah satu Fakultas Teknik terbaik di Indonesia, mencetak sekitar 1000 engineer
baru setiap tahunnya. Proses pencetakan yang berlangsung selama kurang lebih
empat tahun, tentu tidak terbatas hanya pencetakan di dalam kelas semata. Misal
seorang mahasiswa mengambil 20 SKS setiap semesternya, berarti ia akan
menggunakan waktunya sebanyak 20 x 50menit per minggu, 16 minggu x 1000 menit
per semester, 2 semester x 16000 menit atau 32000 menit pertahun. Selama satu
tahun tempaan di bangku kuliah hanya selama 32000 menit atau jika dikonversi ke
dalam hari, hanya 22,22 hari. Lantas kemana sisa 343 hari dalam satu tahun?
Jawabannya adalah suatu proses pencetakan yang bernama kemahasiswaan.
Kemahasiswaan
adalah bahasan yang sangat luas. Kemahasiswaan tidak hanya berbicara tentang lembaga
dan organisasi mahasiswa. Kemahasiswaan bicara tentang segala kegiatan yang
dilakukan mahasiswa yang seharusnya bertujuan
untuk menempa diri mereka menjadi lulusan yang tidak hanya berotak Habibie,
tetapi juga bermental Soekarno. Kemahasiswaan bicara tentang mengimprove mahasiswa menjadi insan yang
lebih baik dari segi paradigma, kemampuan serta sikap.
Kemahasiswaan di FTUI
Di
FTUI kemahasiswaan dijawantahkan dalam suatu ikatan yang bernama IKM FTUI. IKM
FTUI adalah suatu wadah perjuangan bersama yang menghimpun mahasiswa FTUI dalam
satu ikatan dan satu sikap moral. IKM FTUI memiliki tujuan, strategi untuk
mencapai tujuan tersebut, serta perangkat peraturan yang menjaga kesatuan IKM
FTUI itu sendiri. Jika selama ini anda mengikuti kegiatan BEM, IM, BO, BSO, BOK
dan KPD maka sebenarnya anda menjalani bagian kecil dari rangkaian besar
‘proses penempaan’ yang disediakan oleh IKM FTUI.
Seperti
halnya perindustrian yang pasang dan surut seiring waktu, IKM FTUI pun harus
dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Tantangan setiap zaman berbeda,
sehingga IKM FTUI harus mampu mentransformasi dirinya menjadi entitas yang
sesuai dengan zaman, tanpa kehilangan nilai – nilai luhurnya. Tujuan IKM FTUI,
strategi untuk mencapai tujuan tersebut, peraturan – peraturan yang ada, bahkan
landasan ideologis dari IKM FTUI pun harus dapat sesuai dengan zaman agar mampu
memberikan ‘proses penempaan’ yang pas. Untuk menjawab tantangan tersebut wajah
IKM FTUI harus selalu ditinjau ulang. Peninjauan tersebut ada yang bersifat
relative kecil sehingga dilakukan setiap tahun (seiring dengan pergantian
kepengurusan lembaga), dan ada juga yang relatif besar sehingga diadakan
minimal sekali dalam empat tahun. Peninjauan ulang skala besar di IKM FTUI
disebut dengan Musyawarah Kerja IKM FTUI (MUKER IKM FTUI)
MUKER IKM FTUI: Menjawab Tantangan Zaman
MUKER
adalah forum pengambilan keputusan tertinggi di IKM FTUI. MUKER memiliki
wewenang untuk menetapkan hal – hal mendasar yang ada di IKM FTUI, baik itu
landasan ideologis, landasan konstitusional maupun landasan operasional.
Singkat kata, MUKER adalah forum yang akan memutuskan bagaimana wajah dan arah
gerak IKM FTUI hingga empat tahun ke depan. Berikut adalah beberapa ilustrasi
hal yang dapat diputuskan melalui MUKER.
1.
Pembubaran IKM FTUI
Jika
anda merasa format besar kegiatan kemahasiswaan sekarang sudah tidak relevan
dengan kebutuhan mahasiswa, maka tidak mustahil bahwa IKM FTUI itu sendiri
sebaiknya dibubarkan. MUKER memiliki wewenang untuk membubarkan IKM FTUI.
2.
Mengubah Landasan Ideologis
Layaknya
Pancasila bagi Indonesia, IKM FTUI juga memiliki landasan idelogis yang bernama
Kode Etik IKM FTUI. Landasan ideologis inilah yang menjadi jiwa dalam setiap
kegiatan kemahasiswaan. Jika landasan ideologis sudah tidak relevan dengan
kebutuhan zaman maka dapat diubah melalui MUKER.
3.
Mengubah Landasan Konstitusional
Masih
relevankah peraturan – peraturan yang ada pada PD PRT (Peraturan Dasar –
Peraturan Rumah Tangga) terhadap kondisi kekinian mahasiswa? Masih relevankah
adanya persyaratan tidak boleh rangkap jabatan untuk Ketua dan BPH beberapa
lembaga ditengah arus globalisasi? Jawab pertanyaan tersebut dan lakukan
tindakan konkret melalui MUKER.
4.
Mengubah Tujuan IKM FTUI
IKM
FTUI memiliki tujuan yang kemudian akan ditranslasikan melalui beberapa tahap
hingga menjadi program kerja. Jika anda mengeluh tentang program kerja lembaga
– lembaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, maka anda dapat
merombaknya habis – habisan dengan cara merevisi ‘hulu’nya via MUKER.
5.
Mengubah struktur dan format lembaga
MUKER
dapat mengubah struktur kelembagaan di IKM FTUI yang menganut konsep trias
politica. Apakah dengan segitu banyaknya lembaga kemahasiswaan dapat membuat
‘proses penempaan’ menjadi lebih baik? Atau justru membuat ‘proses penempaan’
menjadi tidak optimal? Kaji lebih lanjut tentang struktur dan format lembaga
IKM FTUI di MUKER.
6.
Mengubah Independensi IKM FTUI
Apakah
IKM FTUI masih layak untuk bersifat independen? Atau sebenarnya kita
membutuhkan bantuan dari pihak dosen/dekanat untuk mengarahkan kegiatan
kemahasiswaan sehingga lebih terarah dan bermanfaat? Tahukah anda bahwa pernah
ada masa di mana dosen dan senat akademik fakultas menjadi bagian dari IKM
FTUI? Kaji lebih lanjut tentang hal tersebut di MUKER.
Selain
keenam hal tersebut, masih banyak lagi hal yang dapat dibahas dan diputuskan di
MUKER. Oleh karena itu MUKER adalah jawaban yang paling tepat atas pertanyaan
‘bagaimana seharusnya kegiatan kemahasiswaan yang sesuai dengan tantangan
zaman?’.
Menuju MUKER VIII IKM FTUI
Sejak
berdiri pada tahun 1971, IKM FTUI telah mengadakan MUKER selama 7 kali, yakni
1971, 1974, 1976, 1995, 2003, 2007 dan 2011. Berdasarkan keputusan akhir MUKER
VII, MUKER harus diadakan selambat – lambatnya empat tahun setelah MUKER VII
dilaksanakan. Oleh karena itu tahun depan (2015) kita akan menyelenggarakan
MUKER VIII IKM FTUI.
MPM
FTUI bertanggung jawab atas terselenggaranya MUKER IKM FTUI. Dalam proses
penyelenggaraan MUKER ada 2 elemen yang akan dibentuk, yakni Dewan Pengarah
(DP) MUKER serta panitia MUKER. DP MUKER memiliki kewajiban untuk menganalisa
peraturan – peraturan yang ada, menganalisa fakta – fakta di lapangan, melihat
tantangan zaman serta memprediksi tantangan baru yang mungkin muncul dan
memformulasikannya menjadi materi yang akan dibahas di MUKER nanti. DP MUKER
terdiri dari satu orang perwakilan setiap lembaga serta seluruh anggota aktif
IKM FTUI yang mendaftar. Maka bagi anda yang ingin menjadi bagian pencetak
sejarah besar IKM FTUI, daftarlah menjadi bagian dari DP MUKER IKM FTUI.
Mengapa Kita Harus Terlibat?
Seperti
yang telah dijelaskan berulang kali di atas, tantangan zaman yang selalu
berubah menuntut ‘proses penempaan’ mahasiswa yang dinamis. Misal contoh
sederhana adalah AEC (ASEAN Economic Community) yang akan dimulai pada tahun
2015 mendatang, tentu membawa tantangan tersendiri untuk kemahasiswaan IKM
FTUI. Dapatkah engineer cetakan IKM FTUI bertahan hidup di dunia yang semakin
mengglobal? Masihkah bentuk dan tujuan kegiatan – kegiatan saat ini relevan
dengan kebutuhan dunia kerja? Sebesar apa peran mahasiswa dalam menentukan masa
depan Indonesia? Pertanyaan – pertanyaan tersebut harus kita jawab tahun depan
melalui MUKER IKM FTUI.
MUKER
akan menentukan bagaimana nasib calon adik – adik kita beberapa tahun ke depan.
Nasib junior – junior kita yang bahkan mungkin tak kita kenal sama sekali.
Tetapi tidak berhenti sampai situ, jika kita tinjau secara makro, MUKER bahkan
dapat menentukan masa depan Indonesia.
ditulis di suatu pagi yang sedih
'Strategi' dalam Organisasi Kemahasiswaan
Tulisan ini merupakan kelanjutan dari
tulisan ‘Organisasi Mahasiswa dalam Perspektif Sistem’. Akan lebih baik jika
pembaca membaca artikel tersebut terlebih dahulu. Artikel dapat diakses di http://romansamahasiswa.blogspot.com/2014/01/organisasi-mahasiswa-dalam-perspektif.html
Beberapa hari yang lalu saya
baru membaca salah satu tulisan yang dibuat oleh Michael E. Porter, salah satu
professor bisnis paling terkemuka di dunia. Porter menulis artikel tentang
‘What is strategy?’. Tulisan yang sangat menarik, meski telah berumur cukup tua
untuk sebuah tulisan ilmiah (ditulis pada tahun 1996). Porter mengkritisi cara
para pebisnis mendefinisikan ‘strategi’ di mana paradigma lama memandang strategi
sebagai cara untuk meningkatkan performa setiap divisi dalam perusahaan.
What is Strategy?
Pada dasarnya strategi adalah
langkah – langkah besar yang harus dilakukan untuk mencapai suatu tujuan.
Setiap entitas pasti memiliki strategi. Misal jika anda mahasiswa dan tujuan
anda adalah mendapat nilai bagus, anda pasti memiliki strategi untuk
mencapainya, misal dengan belajar setiap setelah kelas, mengerjakan tugas H+1
tugas dikasih, dll. Begitu juga dengan perusahaan. Setiap perusahaan memiliki
visi, dan untuk mencapai visi tersebut tentu membutuhkan strategi.
Menurut Porter, strategi
memiliki tiga prinsip utama. Prinsip pertama adalah adanya ‘positioning’.
Strategi perusahaan harus dapat menentukan bagaimana posisi perusahaan tersebut
dalam pasar. Yang dimaksud dengan posisi adalah bagaimana konsumen memandang
perusahaan tersebut sehingga perusahaan tersebut memiliki kekuatan pada pasar.
Positioning perusahaan dalam pasar dapat muncul karena tiga hal, yakni 1) variety based positioning (positioning
karena jenis produk yang unik), 2) needs
based positioning (positioning karena mengakomodasi berbagai kepentingan
suatu segmen konsumen), dan 3) access
based positioning (positioning akibat kemudahan konsumen untuk mendapatkan
produk sehingga produk semakin diminati).
Prinsip berikutnya adalah
adanya trade-offs. Setiap strategi
pasti memiliki tradeoff. Tradeoff adalah pengorbanan yang harus dilakukan untuk
mendapatkan suatu hal lainnya. Misal jika anda diundang untuk traktiran ulang
tahun jam 7 malam, sedangkan anda mengikuti les bahasa inggris pada waktu yang
sama. Jika anda ingin mengikuti traktiran, berarti anda tidak dapat les bahasa
inggris. Les bahasa inggris adalah tradeoff dari keputusan anda untuk mengikuti
traktiran. Begitu juga dalam perusahaan. Strategi suatu perusahaan harus
mengacu pada visinya. Untuk mencapai visi perusahaan, terkadang jajaran
direktur harus membahas langkah apa yang diambil dan tradeoff apa yang
dikorbankan. Kesalahan yang biasa terjadi dalam perusahaan adalah ia melupakan
jati dirinya. Tidak konsisten dengan strateginya. Perusahaan seringkali
mengadopsi business process, teknologi,
sistem informasi dan hal – hal lain dari perusahaan lain yang dianggap membawa
kesuksesan kepada perusahaan lain tersebut. Padahal belum tentu apa yang dilakukan
oleh perusahaan lain tersebut sejalan dengan jati diri perusahaannya. Alhasil,
strategi hanya menjadi ‘asal up to date’. Dan perusahaan pun cenderung menjadi
perusahaan peniru yang tidak akan memenangi pasar.
Prinsip terakhir adalah adanya
fit-ness (kesesuaian/kecocokan, bukan
fitness yang ke gym buat body building). Fit-ness adalah prinsip dari strategi
yang paling krusial. Fit-ness adalah bagaimana kesesuaian business process
antara satu divisi dengan divisi lainnya. Fit-ness adalah kondisi di mana
interaksi antar divisi menyebabkan meroketnya performa perusahaan secara
keseluruhan. Fit-ness berbicara tentang bagaimana rantai nilai dalam perusahaan
berjalan sehingga membentuk ikatan antar rantai yang sangat kuat. Fit-ness
berbicara tentang kesinambungan dan keterkaitan antar divisi yang menjadi competitive advantage bagi perusahan.
Misal perusahaan terdiri dari divisi finansial, divisi teknologi, divisi
marketing, divisi operasional dan divisi informasi. Aktivitas dari salah satu
divisi yang memberikan value kepada
konsumen, menyebabkan value yang
dihasilkan oleh divisi lain juga meningkat. Alhasil, dengan adanya fit-ness,
perusahaan pesaing tidak dapat meniru business process dengan mudah. Jika
pesaing meniru konsep dari salah satu divisi, belum tentu peniruan tersebut
dapat diterapkan oleh pesaing karena adanya kesinambungan rantai nilai berkat
fit-ness dari perusahaan yang ditiru (sedangkan perusahaan peniru tidak
memiliki fit-ness tersebut).
Prinsip Strategi yang Relevan dengan Organisasi Kemahasiswaan
Dalam menganalisa strategi
pada organisasi kemahasiswaan, penulis membatasi definisi organisasi
kemahasiswaan sebagai lembaga eksekutif kemahasiswaan baik di tingkat
universitas, tingkat fakultas maupun tingkat himpunan/jurusan. Organisasi –
organisasi tersebut biasanya memiliki berbagai bidang/divisi yang memiliki
fungsi – fungsi masing masing. Contoh bidang/divisi yang biasa ada adalah
kesekretariatan, PSDM, pengabdian masyarakat, olahraga, dll.
Berdasarkan definisi tersebut,
maka prinsip strategi yang harus dipenuhi oleh organisasi kemahasiswaan adalah
prinsip kedua dan prinsip ketiga. Prinsip pertama, strategic positioning, tidak
perlu ditinjau karena pada umumnya lembaga – lembaga tersebut tidak memiliki
kompetitor dengan model organisasi yang sama bagi target pasarnya.
Adakah Organisasi Kemahasiswaan yang Memikirkan Tradeoff?
Analisa pertama dilihat dari
tradeoff. Sudahkah pemangku jabatan di organisasi kemahasiswaan memikirkan
tradeoff? Setiap mencalonkan diri menjadi calon ketua, mahasiswa pasti memiliki
hal besar yang ingin dia bawa dalam bentuk visi dan misi lembaganya. Pada visi
dan misi lembaganya tentu tersirat fokus lembaga yang akan ia bawa selama
setahun ke depan. Misal suatu lembaga memiliki fokus pengembangan IPTEK
mahasiswanya, atau fokus pengabdian masyarakat, atau fokus pengembangan
prestasi olahraga dan seni, atau fokus – fokus lainnya. Pertanyaannya adalah
apakah fokus tersebut benar – benar diejawantahkan (dituangkan) dalam hal – hal
yang lebih mendetil seperti divisi – divisi yang dibuat atau proker – proker
yang diusung?
Misal ada lima tema dalam
suatu organisasi, yakni tema A, B, C, D dan E. Tema A bertentangan dengan tema
D. Tema C dan tema A memiliki hubungan yang erat karena kemiripan tema
tersebut. Untuk kepengurusannya, lembaga ingin fokus kepada tema A. Berdasarkan
konsep strategi, seharusnya lembaga meningkatkan proker – proker pada tema A
dan tema C (karena tema C berkaitan dengan tema A). Selain itu lembaga juga
seharusnya mengurangi intensitas proker tema D karena berpotensi mengurangi
nuansa dan pencapaian tema yang menjadi fokus (tema A). Itu baru strategi!
Nyatanya sebagian besar
lembaga hanya menurunkan fokus utama lembaganya menjadi proker – proker
unggulan dan pembuatan proker – proker unggulan tersebut telah disebut
‘strategi’. Padahal strategi bukan hanya menyangkut satu divisi yang mengusung
satu tema, tapi strategi adalah keseluruhan. Sudah selayaknya ada divisi yang
‘mengalah’ jika memang kegiatan divisi tersebut mengurangi nuansa tema yang
menjadi fokus lembaga.
Fit-ness Antar Divisi Organisasi Kemahasiswaan
Satu lagi prinsip strategi
yang seharusnya dimiliki oleh organisasi kemahasiswaan adalah tentang fit-ness.
Berdasarkan teori strategi, dengan adanya fit-ness suatu perusahaan tidak akan
dapat diimitasi dengan mudah karena membentuk value chain yang unik. Jika kita meninjau organisasi kemahasiswaan,
adakah interaksi antar bidang yang menunjang fungsi organisasi tersebut? Misal
sebuah organisasi memiliki 6 bidang, yaitu kesekretariatan, humas, pengabdian
masyarakat, iptek, seni dan olahraga. Apakah ada interaksi antar bidang
tersebut? Apakah bidang tersebut harus melakukan komunikasi satu sama lain
sehingga menciptakan fit-ness? Atau sebenarnya setiap bidang tersebut dapat
berdiri secara mandiri menjadi organisasi sendiri, menjadi lembaga
kesekretariatan, lembaga humas, lembaga pengabdian masyarakat, lembaga iptek,
lembaga seni dan lembaga olahraga tanpa mengurangi fungsi setiap bidang
tersebut?
Dalam tulisan sebelumnya
tentang Organisasi Mahasiswa dalam Perspektif Sistem, saya menganalisa bahwa
interaksi antar bidang harus ada, jika organisasi mahasiswa benar – benar ingin
disebut ‘organisasi’. Dalam bahasan kali ini, tidak hanya interaksi yang harus
dibentuk, tetapi juga kualitas dari interaksi tersebut. Interaksi harus
membentuk suatu nilai tambah bagi output organisasi
kemahasiswaan yang unik dan lebih baik jika dibandingkan dengan setiap bidang
menjalankan fungsinya masing – masing. Interaksi ini harus diatur dalam sebuah
blueprint strategi yang seharusnya didisain sejak awal kepengurusan lembaga
kemahasiswaan.
Menurut kacamata penulis
fit-ness dalam organisasi kemahasiswaan umumnya dijawantahkan dalam bentuk
nilai – nilai yang menjadi ‘ciri’ organisasi tersebut pada suatu kepengurusan.
Misal organisasi yang ‘semangat’, ‘dinamis’, ‘akrab’, ‘intelek’, atau nilai –
nilai pokok penggerak organisasi lain yang diusung oleh ketua lembaga. Belum
banyak organisasi kemahasiswaan yang mentranslasi nilai – nilai tersebut
menjadi strategi konkrit yang komprehensif dan dikontrol pelaksanaannya. Nilai
– nilai tersebut pun tidak semuanya berhubungan dengan fit-ness.
Salah satu tujuan adanya
organisasi kemahasiswaan adalah pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengelola
sebuah sistem yang subsistem paling berpengaruhnya adalah unsur ‘mannusia’.
Namun akan sampai kapan mahasiswa hanya menjalani organisasi yang ‘begitu –
begitu’ saja? Teori organisasi dan strategi semakin maju sehingga seharusnya
organisasi kemahasiswaan mampu menerapkan teori – teori tersebut. Jika sejak
mahasiswa kita sudah dapat menjalankan organisasi yang baik maka saat di dunia
kerja nanti, baik pemerintahan maupun swasta, kita pasti dapat menjadikan
tempat kerja/kontribusi kita menjadi lebih baik pula. Ya, karena semuanya
berawal di bangku kuliah.
Sunday, February 9, 2014
#Share Surat Terbuka Untuk Peserta Muker (IV) FTUI
Beberapa hari yang lalu ketika akan sidang
pleno di ruang MPM, saya iseng membongkar lemari yang terdapat di ruang
tersebut. Dalam lemari itu terdapat berbagai dokumen – dokumen lama BPM FTUI
dan SM FTUI. Salah satu dokumen yang menarik perhatian saya adalah arsip Muker
IV IKM FTUI (arsip tahun 1991-1996). Muker atau Musyawarah Kerja adalah forum
bagi anggota IKM FTUI yang diadakan minimal sekali dalam empat tahun untuk
menelaah ulang peraturan – peraturan tertinggi yang ada di IKM FTUI, baik itu
Kode Etik IKM FTUI, GBHI, serta PD PRT IKM FTUI. Dalam arsip tersebut terdapat
sebuah surat, yang saat membacanya saya langsung tergugah untuk merefleksikan
sudah berapa banyak hal yang kita lakukan selama perkuliahan ini. Berikut suratnya.
******************************************************************************
SURAT TERBUKA UNTUK PESERTA MUKER FTUI
Dengan suatu lompatan evolusioner
manusia mulai menggpai suatu cita – cita ideal, yang demi pemenuhannya
terkadang ia melupakan kepentingannya sendiri. Konsentrasinya dicurahkan
sepenuh keyakinan dan pengbdiannya pada kemanusiaan. Datanglah suatu tahap
ketika untuk mewujudkan cita – citanya itu dia tidak hanya mengabaikan
kesenangnnya, posisi dan kekayaannya, tetapi bahkan mempertaruhkan
kehidupannya.
Seorang ilmuwan sejati berupaya
melakukan penemuan, bukan untuk mengbdi pada tirani atau untuk memperoleh
pujian. Tetapi ia melakukan itu untuk menambah pengetahuan dan pengabdian pada
kemanusiaan.
Seorang pekerja sosial yang tulus
berusaha untuk melayani pengobatan bagi penderita, untuk menolong mereka yang
sengsara dan tertindas, bukan demi pujian dan popularitas. Tetapi semua itu
demi kemanusiaan dan pengabdian.
Sebagian kecil mahasiswa (yang pasti
bukan mahasiswa FTUI) berusaha memperjuangkan kaum tertindas. Mereka tidak
tertarik lagi dengan gelar akademis, padahal jutaan anak Indonesia (nah ini
baru termasuk hampir keseluruhan mahasiswa FTUI) berebutan meraihnya dengan
belajar serius, merayu dosen atau apa saja. Mereka juga tidak lagi menggubris
karier di kota besar, dalam ruangan ber AC, meja ber PC, dan sekretaris yang KC
(baca: kece). Padahal untuk itu jutaan anak muda berlomba.
Seorang penganut ideology tertentu
menghadapi segala macam kesulitan dan bahaya serta berkorban untuk kebebasan
negaranya.
Julukan apa yang tepat bagi orang –
orang itu?
Dan bagaimana menafsirkan kerja
mereka?
Tidak ada celanya anda memanggilnya
seorang idealism karena mungkin apa yang ia perjuangkan pada realitanya belum
tentu baik dalam alam ataupun dalm masyarakat. Dia hanya mempersepsikannya
sebagai sesuatu yang ideal dalam pemikirannya dan menjadikannya sebgai bagian
dari kehidupannya. Hasrat yang seperti itu menjadi kekutan pendorong yang
mengarakkan untuk meneruskan segala usahanya tersebut hingga apa yang
sebelumnya merupakan gagasan bisa terwujud dan menjadi kenyataan sejarah.
Setiap ajaran ideologis mesti
memiliki suatu gagasan yang belum terwujud sebagai suatu realitas tetapi
pengorbanan harus dilakukan untuk mencapainya. Inilah suatu yang tidak bisa
dijelaskan oleh teori materialism. Hal mengnenai gagasan tersebut tidak bisa
ditafsirkan oleh hukum materi dan alam.
Gagasan ideal tersebut merupakan
nilai – nilai luhur yang harus diperjuangkan oleh manusia, dan demi untuk itu
manusia harus selalu siap berkorban. Jika anda ingin menemukan sosok pribadi
yang benar – benar memiliki kualitas sebagai manusia maka carilah seseorang
yang berbakti pada gagasan ideal dan nilai – nilai luhur tersebut yang ada di
luar hukum – hukum psikologi dan biologi.
Sebaiknya dalam Muker nanti hal yang
terpenting dikaji adalah, tipe mahasiswa seperti apa yang ingin dihasilkan oleh
FTUI!!!
Apakah
FTUI akan memproduksi mahasiswa dengan IPK 3, tpi tidak pernah mau tahu dengan
permasalahan lingkungannya atau FTUI akan memproduksi mahasiswa seperti yang
tergambar di atas. Kesemuanya itu tidak terlepas dari program senat secara
keseluruhan.
Bisakah FTUI melahirkan sosok
manusia idealis dengan kegiatan senat yang lebih menjurus adventure. Coba kita
renungkan manusia seperti apa yang bisa dihasilkan dengan BKST, LML, 3M, Sunday
Ars, malam kekerabatan dan masih banyak kegiatan yang pelaksanaannya serba
tidak jelas. Begitu juga Mabim apakah mampu menciptakan seorang yang idealis?
Gema BKST mungkin didengan hampir oleh semua warga UI, tapi sampai dimanakah
gema kelompok ilmiah teknik?
Terbesit suatu harapan mudah –
mudahan dalam Muker nanti minimal bisa dirumuskan apa yang menjadi sasaran
utama anda. Jika anda ingin memproduksi mahasiswa yang bisa menyelesaikan studi
dengan cepat:
-
Buatlah suasana
kampus yang tenang (seperti saat ini) dan tidak perlu mempermasalahkan hal –
hal yang tidak berhubungan dengan studi.
-
Aktifkan kelompok
– kelompok ilmiah di teknik
-
Kondisikan
mahasiswa supaya mereka tidak sempat memperhatikan lingkungannya
Tapi
juka anda ingin menciptakan mahasiswa yang sesungguhnya maka anda harus merombak
program^2 anda yang lalu. Cobalah anda renungkan, mahasiswa seperti apa yang
akan terbentuk dengan kegiatan seperti BKST, 3M, Sunday Arts, malam
kekerabatan. Apakah anda pernah mengevaluasi hasil kegiatan tersebut.
Dari mahasiswa teknik yang dihasilkan,
dapat dilihan program^2 anda yang lalu terbukti mencapai sasaran. Dengan
program kegiatan anda lebih banyak hura – huranya maka terbentuklah mahasiswa
yang tidak peka terhadap masalah sosial dan mahasiswa yang mementingkan dirinya
sendiri.
Yang menjadi pertanyaan apakah hal
ini akan anda biarkan saja atau anda mempunyai keinginan merubahnya. Jika anda
ingin merubahnya, yang paling penting anda harus melatih mahasiswa FTUI supaya
peka terhadap masalah sosial, dan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti membuat bulletin yang isinya khusus tentang permasalahan sosial di
sekitar anda atau mungkina anda (fungsionaris senat) perlu belajar dari rekan
anda di universitas lain.
Jika anda berhasil menciptakan
mahasiswa yang peka terhadap masalah sosial dan berbakti pada gagasan ideal
serta nilai^2 luhur, mudah – mudahan cita - cita bangsa ini akan tercapai.
Wahai fungsionaris FTUI!!!! Tunjukkanlah
engkau mampu berbuat tidak hanya bicara dan mengotori dinding kampus dengan
slogan – slogan kosongmu.
Kalau
anda memang tidak mampu berbuat apa – apa lebih baik anda diam saja dan jangan
anda menjadi kelompok yang menyuarakan omong kosong.
********************************************************************************
Surat tersebut cukup menampar bagi saya. Sudah sejauh
mana kita memberikan manfaat bagi orang – orang di sekitar kita. Atau selama
ini kita hanya memedulikan diri kita pribadi?
Notes ini semata –
mata bertujuan untuk membagi cerita kepada pembaca. Tidak ada intensi untuk
menyudutkan pihak manapun.
Sunday, January 26, 2014
Hukum Truk Sampah
kisah ini disadur dari majalah Shift -
issue 6
Suatu hari, seorang pebisnis menyetop
taksi untuk mengejar penerbangan. Selama berada dalam perjalanan ke bandara,
supir taksi menyetir di sebelah kanan. Tiba - tiba, sebuah mobil lain keluar
dari area parkir langsung mengambil jalan di depan taksi. Supir taksi kaget dan
me-rem mendadak, hingga taksinya sedikit tergelincir. Terlambat setengah detik
saja, mereka pasti tabrakan!
Pengemudi mobil lain itu mengeluarkan
kepalanya keluar jendela mobil dan mulai memaki supir taksi. Namun si supir
taksi hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Sip ebisnis heran, kok supir
taksi bisa begitu ramah pada orang yang hamper menyelakainya? Lalu ia berkata
dengan gemas, “Kalau saya jadi anda, saya tidak akan sebaik itu pada orang yang
hamper mengirim kita ke rumah sakit. “ Saat itu si supir taksi mengajarkan ‘Hukum
Truk Sampah’.
Supir taksi menjelaskan bahwa sebagian
besar orang bagaikan truk sampah. Mereka pergi kemana – mana, membawa – bawa sampah:
segala frustasi, kemarahan dan kekecewan. Ketika sampah telah menggunung,
mereka merasa terdesak untuk segera memuntahkannya di suatu tempat. Kadang anda
lah yang jadi tempat pembuangan tersebut. Tidak perlu menganggapnya serius. Tersenyumlah,
lambaikan tangan, doakan mereka, dan berlalulah seolah taka da yang terjadi.
Jangan mau menjadi tempat penampungan dari sampah yang mereka muntahkan, atau
anda juga akan memuntahkannya keppada orang – orang di tempat kerja, di ruah
atau di jalanan. Percayalah, hidup tidak akan nikmat jika anda memilih untuk
menjadi truk sampah yang lain.
Saturday, January 11, 2014
Organisasi Mahasiswa dalam Perspektif Sistem
Setelah memelajari hakekat dari ‘sistem’ dan berkecimpung dalam
organisasi kemahasiswaan, saya jadi sering merenung tentang hubungan antara
kedua hal tersebut. Kita sering menyebut bahwa organisasi kemahasiswaan itu
adalah sistem karena memiliki struktur dan setiap bagian dari struktur memiliki
‘kerjaan’ yang berbeda – beda. Pertanyaannya adalah apakah pernyataan tersebut
benar?
Apa Itu Sistem?
Hal pertama yang perlu kita definisikan adalah
sistem itu sendiri. Sistem adalah sekelompok komponen yang saling berinteraksi
dalam aturan – aturan tertentu untuk mencapai sebuah tujuan. Ada tiga hal yang
menjadi kata kunci dalam definisi sistem, yaitu ‘komponen’, ‘saling
berinteraksi’ serta ‘tujuan’. Tiga hal ini yang membedakan sistem dari kelompok
komponen.
Kedua gambar di atas adalah gambaran perbedaan
antara sistem dengan kelompok komponen. Kedua gambar di atas memiliki perbedaan
dalam aspek ‘interaksi’ dan ‘tujuan’. Sederhananya, sistem dan kelompok
komponen memiliki 3 perbedaan, yaitu:
Sudah ‘Sistem’kah
Organisasi Kemahasiswaan?
Analisa terhadap organisasi kemahasiswaan didasarkan oleh definisi dari
sistem serta perbedannya dengan kelompok komponen. Syarat pertama dari sebuah
sistem adalah komponen. Organisasi kemahasiswaan tentunya memiliki komponen –
komponen berupa bidang – bidang atau biro – biro yang terstruktur serta
memiliki fungsinya masing – masing. Setiap organisasi kemahasiswaan tentu
memiliki struktur, sehingga berdasarkan syarat pertama dapat dibilang bahwa
organisasi kemahasiswaan adalah sistem.
Syarat kedua adalah interaksi. Poin ini perlu kita khayati dan kita
analisa lebih dalam. Apakah ada interaksi antara setiap bidang dan biro dalam
organisasi? Apakah ada interaksi antara bidang A dengan bidang B, C dan D?
Dalam sebuah sistem, seluruh komponen memang tidak berinteraksi dengan seluruh
komponen. Sebuah komponen hanya akan berinteraksi dengan beberapa komponen lainnya,
tidak dengan seluruh komponen. Namun yang pasti tidak ada satupun komponen yang
sama sekali tidak berinteraksi dengan komponen lainnya. Silahkan cermati
organisasi yang sedang kita jalankan, apakah ada bidang/biro yang berdiri
sendiri tanpa berinteraksi dengan bidang/biro lainnya?
Syarat ketiga adalah adanya tujuan bersama yang dicapai dengan interaksi
serta fungsi setiap komponen. Mesin di atas memiliki fungsi untuk menghidupkan
dan menjalankan mobil. Fungsi dapat dicapai jika seluruh komponen menjalankan
fungsinya masing – masing dan jika interaksi antarkomponen terjadi. Bagaimana
dengan organisasi kemahasiswaan? Terkadang, sebuah organisasi gagal untuk
mendefinisikan tujuannya. Tujuan bersama serta peran setiap bidang untuk tujuan
tersebut perlu didefinisikan dengan baik. Jika ada satu saja komponen
(re:bidang) yang tidak tahu perannya dalam mencapai tujuan, apalagi tidak
memiliki peran dalam mencapai tujuan tersebut, maka organisasi tersebut
bukanlah sebuah sistem. Organisasi tersebut hanya sekumpulan komponen.
Pertanyaan berikutnya dari syarat ketiga adalah, apakah ada interaksi
antar bidang dalam organisasi, dan apakah interaksi tersebut berkontribusi
terhadap pencapaian tujuan organisasi? Jika
interaksi yang ada tidak membantu organisasi mencapai tujuannya maka lebih baik
interaksi itu dihapus saja karena hanya membuang – buang sumber daya.
Syarat terakhir dari sebuah sistem adalah jika salah satu komponennya
diambil, maka dapat terjadi kegagalan sistem. Jika gear pada mesin tersebut dilepas, maka mesin tidak akan berjalan.
Mari kita simulasikan analogi tersebut dengan organisasi kemahasiswaan. Apakah
jika salah satu bidang dalam organisasi dihapus, lantas organisasi tersebut
akan gagal beroperasi? Sebagai contoh jika bidang humas dalam organisasi
kemahasiswaan dihapus, apakah tujuan organisasi kemahasiswaan tersebut tidak
akan tercapai?
Rekayasa Organisasi
Kemahasiswaan
Pada hakekatnya sistem dapat dibedah. Sistem dapat direkayasa. Untuk
menjadikan sebuah organisasi kemahasiswaan menjadi sebuah sistem, ada tiga hal
yang harus dilakukan. Hal pertama adalah pendefinisian tujuan bersama dari
sebuah sistem. Tujuan ini dapat bersifat tunggal maupun majemuk. Namun tujuan
yang dibuat harus sebuah tujuan besar. Tujuan – tujuan kecil yang tidak
memiliki keterkaitan tidak ada bedanya dengan kumpulan komponen yang memiliki tujuan
masing – masing.
Hal kedua adalah merekayasa komponen – komponen, termasuk interaksi
antar komponen yang menyongsong tujuan organisasi. Setiap komponen harus didisain
agar memiliki kontribusi terhadap tujuan yang ingin dicapai. Setiap komponen
harus didisain agar memiliki interaksi dengan komponen lainnya. Interaksinya
pun harus didisain agar jika tidak ada interaksi, maka salah satu komponen
tidak dapat menjalankan fungsinya (sama sekali, jika memungkinkan) yang
berakibat gagalnya tujuan organisasi.
Ketiga langkah tersebut bersifat iteratif. Pertama, anda definisikan
tujuan organisasi. Kedua rekayasa bidang dan interaksi antar bidang. Jika ada
bidang yang selama ini ada, tetapi fungsinya tidak dapat direkayasa agar berkorelasi
dengan tujuan organisasi maka ada dua opsi: hapus bidang tersebut, atau
definisikan ulang tujuan organisasi. Setelah itu diskusikan konsep bidang dan
interaksi antar bidang dengan pengurus inti bidang terkait agar mereka tergugah
dan sadar akan pentingnya bidang tersebut. Jika pengurus tidak setuju atau
tidak tergugah dengan konsep yang dibuat, maka ada tiga opsi yang harus
didiskusikan dengan pengurus terkait: hapus bidangnya, rekayasa ulang
bidangnya, atau definisikan ulang tujuan organisasi.
Ketiga langkah di atas mungkin terkesan dipaksakan. Namun jika kita
ingat kembali bahwa orang – orang di organisasi kemahasiswaan umumnya tidak
dibayar, maka perlu ada konsep yang memastikan dan menyadarkan bahwa setiap
orang adalah penting. Perlu ada kesatuan frekuensi tentang apa yang akan dicapai.
Perlu ada hubungan antar bidang yang menyebabkan kedekatan antar pengurus dalam
organisasi itu sendiri. Dan itu semua dapat terwujud jika organisasi
kemahasiswaan benar – benar sebuah ‘sistem’.
Analisa di atas
didasarkan dengan memandang organisasi kemahasiswaan dari perspektif sistem.
Masih banyak perspektif – perspektif lain yang dapat dipakai untuk menganalisa agar
terwujud organisasi kemahasiswaan yang ‘successful’.
Subscribe to:
Posts (Atom)


