Sunday, June 16, 2013

Akan Seperti Apakah Mahasiswa Kini, 20 Hingga 30 Tahun Mendatang?

Pada dasarnya, setiap mahasiswa sejak menginjakkan kaki di kampus memiliki berbagai pilihan 'zona tidak nyaman'. Pada titik tersebut mahasiswa dihadapkan oleh dua pilihan, apakah akan melangkah ke zona tidak nyaman, atau memilih untuk tidak memasuki zona tersebut. Yang saya maksud dengan 'zona tidak nyaman' adalah berbagai aktifitas yang ada baik intrakampus maupun ekstrakampus, karena aktifitas - aktifitas tersebut cenderung mengurangi waktu luang kita. Pilihan yang mana yang dipilih seorang mahasiswa tentu bergantung pada pengalaman empiris, cita - cita masa depan serta sosok kebenaran yang ia lihat di kampus.

Kita mengerucut pada pilihan pertama: memasuki zona tidak nyaman. Pasca reformasi, pilihan zona tidak nyaman semakin banyak.Umumnya zona tidak nyaman ini terbagi menjadi dua yakni intra kampus serta ekstra kampus. Nah pasca reformasi ini, pilihan zona tidak nyaman semakin banyak. Intra kampus maupun ekstra kampus semakin terdiversifikasi. Kalau dulunya hanya mengurus ospek maba dan mengadakan lomba dalam kampus, sekarang mulai mengurusi lomba, seminar, konferensi tingkat nasional bahkan internasional. Kalau dulu gerakan hanya mengkritisi perpolitikan Indonesia, kini bermunculan gerakan - gerakan social movement dengan konsep yang beraneka ragam.

Kita mengerucut lagi pada pergerakan mahasiswa ke luar kampus (yang saya maksud adalah ke masyarakat). Kita pasti sama - sama setuju kalau gerakan sosial politik mahasiswa telah terdiversifikasi, dari gerakan turun ke jalan menjadi gerakan - gerakan sosial yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Saya jadi bertanya, dengan pembentukan karakter mahasiswa terhadap Indonesia yang seperti ini (dari turun ke jalan mulai beralih ke gerakan sosial), seperti apa karakter mahasiswa nantinya saat kita lulus dari kampus?

Pertanyaan itu muncul karena tiga kisah. Yang pertama adalah cerita tentang mantan aktivis UI angkatan '90 yang kini tidak bersikap selayaknya aktivis lagi - malah menjadi kapitalis dan memikirkan diri sendiri (cerita ini saya dapat dari temannya ayah saya). Kedua adalah setelah berbicara dengan salah satu dosen saya, yang mengatakan bahwa departemen teknik mesin angkatan dia dulu (angkatan 82) hingga kini tidak ada satupun yang bekerja di pemerintahan karena trauma dengan pemerintah itu sendiri. Ketiga adalah adanya pandangan sinis mahasiswa yang memilih untuk bergerak dengan turun ke jalan terhadap mahasiswa yang bergerak melalui social movement community, begitu juga sebaliknya.

Kalau dulu mahasiswa dididik untuk cinta terhadap Indonesia dengan cara turun ke jalan, menghasilkan orang - orang dewasa yang saat ini kita temui, maka bagaimana mahasiswa kini (yang sebagian dididik dengan cara turun ke jalan, sebagian lainnya dididik melalui social movement) saat 20 - 30 tahun mendatang? Apakah akan sama seperti saat ini?Atau keduanya dapat terintegrasi dengan baik sehingga menghasilkan Indonesia yang lebih sejahtera? Atau justru mereka akan menjadi dua kubu berbeda yang semakin alot pertentangannya?

Karena bagi saya, inti dari pergerakan mahasiswa bukan hanya menciptakan perubahan secara spontan. Tetapi juga memupuk nasionalisme dalam diri sendiri agar berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik setelah menjadi sarjana nantinya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

referensi gambar: maedastudio.com 

No comments:

Post a Comment